Archive for the Category »Zeze Vavai «

Zeze Vavai1Ternyata pelajaran tentang manajemen pribadi bukan hanya bisa datang dari orang yang lebih tua dan sudah banyak makan rujak (asam garam-Vai :-P ) tentang kehidupan, melainkan juga dari anak sebesar Zeze Vavai.

Di usia menjelang 2 tahun (26 Maret adalah ultah kedua), Zeze Vavai sudah semakin cerdas dan semakin kukuh jika menginginkan sesuatu.

Saat mandi misalnya. Kesenangan Zeze Vavai adalah membuka kran air sebesar-besarnya lantas menutup kran dengan tangannya. Otomatis air bercipratan kemana-mana dan membuat saya yang sedang memandikan ikut basah.

Awalnya saya bertindak sebagai diktator. Saya larang Zeze Vavai berbuat begitu karena air yang bercipratan kadang memancar kemana-mana dan bisa membahayakan jika masuk ke hidung atau telinganya, tapi namanya anak-anak, dia akan menjerit-jerit jika saya paksa berhenti.

Zeze Vavai2Lama-lama saya berpikir, mungkin ada yang salah dari mekanisme saya melarang anak. Saya melarang sesuatu yang mereka gemari tanpa memberikan pemahaman dan alternatif.

Saya masih ingat. Dulu, waktu baru bisa jalan, saya selalu khawatir kalau Zeze Vavai jatuh dari tempat tidur karena selalu turun sendiri dari tempat tidur. Yang saya khawatirkan, kadang Zeze Vavai turun dalam posisi duduk, padahal kakinya belum sampai ke lantai. Ternyata kekhawatiran saya tidak beralasan. Saya hanya perlu mengatakan, “Zeze Vavai, turunnya yang benar. Kalau nggak benar nanti jatuh”, dan tiap saya mengatakan demikian, Zeze Vavai akan dengan segera mengubah posisi duduknya menjadi posisi tengkurap dan kemudian turun sambil mundur :-)

Kali lain, saya selalu khawatir kalau terantuk saat menaiki lantai dirumah yang memiliki sedikit undak-undakan (antara lantai ruang tamu dengan lantai ruang keluarga memiliki selisih tinggi sekitar 30 cm). Ternyata dia dengan mudah membedakan “jebakan” ini. Awal-awal, Zeze Vavai akan merangkak setiap melewati undakan tersebut, memastikan bahwa dirinya tidak akan jatuh. Lama-lama, karena sudah terbiasa, Zeze Vavai hanya perlu berpegang ke tembok untuk menyeimbangkan dirinya.

Sekarang, saya tidak khawatir jika Zeze Vavai senang bermain air. Tak masalah buat saya jika saya berbasah-basah ria meski itu sewaktu saya hendak berangkat kerja. Saya tidak mau menukar kebahagiaan Zeze Vavai hanya dengan sekedar keengganan saya untuk menukar baju jikalau basah. Nilai kebahagiaan yang saya dapatkan jika Zeze Vavai tertawa bahkan jauh lebih berharga dibandingkan kerja lembur semalam suntuk :-D

Salah seorang yang saya kagumi, pak Hadi Kuntoro yang juga member TDA dan tinggal di Bekasi menuliskan pengalaman yang menarik soal kedekatannya dengan anak-anak, “Maunya mandi sama ayah…”. Terima kasih untuk share pengalamannya pak Hadi.

Jadi orang tua tidak perlu selalu khawatir kan…

Category: Zeze Vavai  One Comment

Warning : Kalau rekan blogger / pembaca lagi suntuk atau sedang patah hati, please jangan baca tulisan ini. Jangan salahkan saya kalau nanti tambah migrain dan tambah patah hati :D . Jangan baca juga kalau kamu sedang mual, hihihi…

*****

TulipMaafkan aku isteriku, aku belum menjadi suami yang mengayomi dengan tulus dan ikhlas. Aku masih lebih sering mementingkan diriku sendiri, memilih untuk berdebat mengenai hal-hal yang tidak pernah kita perdebatkan saat pacaran dulu.

Maafkan aku isteriku, untuk semua perhatian dan kasih sayang yang telah kamu berikan, namun aku belum membalasnya dengan perhatian dan kasih sayang yang sama yang sudah kamu tumpahkan padaku. Aku bukannya tak mau dan aku bukannya tak mampu. Kadang-kadang kata-kata argumentasi dan pengalihan esensi yang biasa aku gunakan di rapat kantor terbawa hingga saat-saat aku berbicara padamu.

Maafkan aku isteriku, jika aku sering tertidur lelap saat kamu memintaku mengusap lembut dahimu. Saat aku sulit dibangunkan kala malam menjelang pagi dan kamu ingin ditemani saat hendak mengambil air untukmu atau untuk membuat susu.
Continue Reading…

Category: Zeze Vavai  19 Comments

Vavai dan ManggaPosting ini merupakan kelanjutan dari posting pertama, Catatan Mudik #1, Kopdar dan Fungsionalitas Kronologger. Sengaja saya tempatkan di blognya Zeze Vavai karena memuat foto Zeze Vavai sedang memetik mangga, hehehe…

Salah satu moment yang saya senangi saat pulang kampung (meski ini kampung isteri, bukan kampung saya secara saya ini orang kota. Hah ? Orang kota ???! :-P ) adalah suasana alam yang teduh dan sejuk. Kalaupun tidak sejuk, ada suasana pedesaan yang bisa dinikmati.

Sudah 3 tahun ini saya perhatikan Lebaran selalu bersamaan dengan musim mangga. Tahun ini Lebaran memang agak lebih cepat dibandingkan waktu panen mangga namun disepanjang ruas jalan Indramayu (daerah Kandang Haur dan Jatibarang), deretan penjual mangga cukup banyak. Meski cukup menggoda, saya tidak membelinya karena di rumah family di Brebes biasanya mangga tersedia untuk dimakan hingga mulas :-D .

Benar saja, saat sampai di Brebes, banyak pohon mangga yang sedang berbuah. Satu hal yang membuat saya heran adalah, mengapa didaerah Brebes ini pohon mangga dapat berbuah lebat. Beberapa diantaranya dapat digapai oleh Zeze Vavai (ZezeVavai berusia 1 tahun 7 bulan Lebaran ini) tanpa harus naik ke kursi. Saya membayangkan kalau saja seperti ini di Bekasi mungkin sudah banyak yang hilang dipetik orang yang lewat, hehehe… Apakah karena tanahnya yang dekat pantai ataukah ada sebab lain sehingga pohon mangga dapat tumbuh subur dan berbuah lebat. Sepanjang perjalanan mudik kemarin, saya lihat daerah Indramayu, Brebes-Tegal dan Boyolali bisa menjadi sentra produksi mangga.

Continue Reading…

Category: Zeze Vavai  9 Comments