Maafkan Aku, Isteriku : a Tribute to My Dear Rey
Warning : Kalau rekan blogger / pembaca lagi suntuk atau sedang patah hati, please jangan baca tulisan ini. Jangan salahkan saya kalau nanti tambah migrain dan tambah patah hati
. Jangan baca juga kalau kamu sedang mual, hihihi…
*****
Maafkan aku isteriku, aku belum menjadi suami yang mengayomi dengan tulus dan ikhlas. Aku masih lebih sering mementingkan diriku sendiri, memilih untuk berdebat mengenai hal-hal yang tidak pernah kita perdebatkan saat pacaran dulu.
Maafkan aku isteriku, untuk semua perhatian dan kasih sayang yang telah kamu berikan, namun aku belum membalasnya dengan perhatian dan kasih sayang yang sama yang sudah kamu tumpahkan padaku. Aku bukannya tak mau dan aku bukannya tak mampu. Kadang-kadang kata-kata argumentasi dan pengalihan esensi yang biasa aku gunakan di rapat kantor terbawa hingga saat-saat aku berbicara padamu.
Maafkan aku isteriku, jika aku sering tertidur lelap saat kamu memintaku mengusap lembut dahimu. Saat aku sulit dibangunkan kala malam menjelang pagi dan kamu ingin ditemani saat hendak mengambil air untukmu atau untuk membuat susu.
Maafkan aku isteriku, jika aku lebih sering defisit yang membuatku harus tergantung padamu
. Dalam hal keuangan dan dalam hal administrasinya, aku bukan tandinganmu. Aku lebih berpengalaman dalam menghabiskan waktu dan mengisinya dengan berbagai keinginan yang menderaku.
Tentu aku masih seperti yang dulu, meski berat badanku bertambah dan terus bertambah sejak menikah denganmu. Jika dulu aku bisa sprint untuk mendaki Gunung Gede-Pangrango, sekarang naik tangga ke tingkat ketiga membuatku memikirkan apa saja makanan yang sudah kumakan yang memberati darahku.
Isteriku, terima kasih untuk semua pengertian dan pemahaman yang aku dapat darimu. Untuk anak yang manis, ganteng dan cakep yang selalu menghibur dengan gurauan dan canda yang membuatku selalu ingin pulang cepat kerumah karena kutahu kamu dan Zeze Vavai selalu menunggu (sok PD, hehehe..).
Maafkan aku jika kamu jadi cemburu pada Zeze Vavai karena Zeze Vavai pandai memanggil “papa…” dan butuh waktu untuk memanggil “Ibu…”
Maafkan aku jika aku jadi jarang mengirim puisi untukmu, jarang menulis tulisan “tribute” untukmu, jarang memberikan catatan manis untukmu. Tak seperti dulu, saat aku seperti kumbang yang sebentar-sebentar menghampirimu. Dalam lubuk hatiku, aku malu jika ingin berkata bahwa aku terlalu sibuk yang kadang aku tak tahu untuk apa semua itu. Jangan katakan, “Ah, kalau lagi pacaran memang begitu…”. Aku tersenyum sendu mendengar semua itu…
Isteriku, aku sayang padamu, just the way you are…
Cinta pada ibu jadi abadi
Cinta pada anak tak mau berbagi
Cinta kepadamu, mengapa menyergap berkali-kali…
*****
Photo credited to http://www.free-slideshow.com/stock-photos/flowers_plants/flower-tulip-water-drop2.jpg




*gubraaaks*
so sweet, vavai…
jadi inget sama suami nih…
perempuan itu, biar kesel atau capek, kalo udah dikasih kata2 manis, aduuuuuh…langsung klepek2.
gapapa, abis ngepel rumah, terus masak rendang dan harus nyuci setumpuk pakaian kotor. kalo dikasih ucapan manis….hmmmmm hilang capeknya.
Hihihi…
Ini kepikiran karena semalam saya keburu tidur saat isteri saya minta dipijit, hihihi..
Mudah-mudahan beneran klepek-klepek, karena saya hendak ke Yogya sore ini dan butuh support, hahahaha…
iya deh…selamat jalan ke jogja. Perempuan, tetap perempuan semandiri apapun dia. Sangat suka disanjung dan diperhatikan.
Jeleknya, kaum play boy tahu hal ini….jadilah “rayuan” mereka manfaatkan untuk menggaet perempuan…hihihihi
Akhirnya ada juga yang bisa aku komentarin di blog nya mas vavai, secara aku adalah pecinta sejati dan pecinta sajak-sajak tentang cinta, yang mas vavai lakukan adalah the best mas,, aku suka banget
yang jelas cinta kepada istri harus lebih besar, karena Istri yang SHolehah juga bisa membantu kita memasuki Surga..
Semoga dapet momongan lagi mas, *adeknya zeze* hwehehehehe…
wahh kl istrinya bos vavai mbaca ini ..yakin deh.. ntar malem di ’servis’ plus hehehhehehhe
#Ghan,
Wah, terima kasih banyak Ghan. Saya mesti belajar banyak sama kamu dalam hal merayu, hehehe…
#Miftah,
Jadi curiga jangan-2 mamanya Alessa bakal dapat puisi juga malam ini
sekali-kali…boleh lah nyonya dikirim kado macam begini…
http://mamalehe.blogspot.com/2007/01/intimate-after-make-love-cake.html
ternyata… oh … ternyata …
romantis juga dikau bro
Cieeeeh… Vavai… hehehe… Thanks for sharing Vai. Jadi bahan pembelajaran nih
Argh…
Kalau saya cewek, saya pasti naksir sama mas vavai nih… Yuuuuu…!%#@%!$
Vavai.., sepertinya perayu ulung. Buktinya, baru segitu aja puisinya dah banyak yang jatuh miskin, eh, jatuh simpati,hehehe.
Wadoh, baca postingan vavai kali ini membuatkuh pengen pulang ke Medan (istri dan anak di sana karena baru melahirkan). Arggh… Vavai, kamu harus tanggung jawab.
*dial nomer fanny*
..love is in the air! prikitiw woot-woot.
hello…
wonderful…
kapan yah suami saya bikin blog seperti ini? hehehe
waduh mesranya…..bapak ini….