Kacamata Hitam

Lagi bergaya-gaya pakai kacamata hitam. Zeze Vavai memang lagi nakal-nakalnya, jadi apa yang bisa dicoba akan dicoba. Saya melarangnya pakai kacamata hitam karena takut nubruk sana-sini :-P dan takut pengaruh ke matanya. Kalau cuma sebentar sih nggak apa-apa…

Kacamata Hitam
Read more »

Di Atap Rumah

Salah satu tempat favorit Zeze Vavai untuk bermain-main adalah atap rumah. Mungkin karena dari atap ini Zeze Vavai bisa memandang jauh ke angkasa, bisa lihat mobil dan motor yang lewat di depan rumah dan bisa melihat layang-layang dan pesawat terbang.
Atap Rumah
Read more »

Fotografer Cilik

Selain menjadi hacker, Zeze Vavai juga seneng memotret. Papanya hanya diberi kamera HP yang kurang jelas sementara Zeze Vavai pakai Kamera Digital Sony 8 Mega Pixel. Mamanya sampai takut kalau tiba-tiba kamera itu dibanting :-D

Fotografer Cilik Read more »

Hacker openSUSE Indonesia

hacker opensuse

Hacker openSUSE Indonesia, baru bangun belum mandi langsung main komputer. Nggak mempan dilarang, ngamuk kalau diminta pindah namun kalem dan cool kalau hendak difoto. Muhammad “Zeze Vavai” Rivai Alifianto, 2 tahun 3 bulan.

hacker opensuse

hacker opensuse

hacker opensuse

Cool…

Mungkin meniru papanya yang cool (coolkas :-D ), Zeze Vavai sering unik jika sedang difoto. Dia akan bergaya seolah-olah sedang tidak difoto. Bedanya, kalau saya sering salah tingkah sendiri, Zeze Vavai benar-benar cool. Setuju kan kalau memang cool, hehehe…

Foto ini diambil tanggal 26 Mei 2008.

cool

Cool…

Naik Odong-Odong

Naik Odong-odong

Salah satu kegiatan yang disenangi Zeze Vavai adalah naik odong-odong. Awalnya saya agak kaget juga karena biasanya Zeze Vavai tidak mau mencoba sesuatu yang masih asing baginya, namun ternyata dia tertarik juga karena ada banyak anak kecil tetangga yang ikut naik.

Saya masih ingat waktu mengajak Zeze Vavai ketempat permainan anak-anak. Dia mau duduk di mainan (misalnya sepeda motor, mobil atau kuda-kudaan) tapi tidak mau jika mainan itu dijalankan. Saya sering tidak enak hati pada penjaga mainan karena bisa-bisa disangka pelit, padahal saya tidak memasukkan koin karena Zeze Vavai akan kabur kalau mainannya dijalankan :-P

Mungkin sesuai dengan perkembangan usianya juga, sekarang Zeze Vavai langsung bilang, “Iya…” jika saya tanyakan apakah mau naik mainan atau tidak. Ucapan “Iya”-nya juga sudah sangat jelas, tidak seperti waktu usia 1 tahun saat awal belajar bicara.

Naik Odong-odong2

Tanggal 22 Juni 2008 sore kemarin mbah kakungnya mau mengantar family ke Pondok Labu tapi ternyata Zeze Vavai minta naik odong-odong dulu bersama seorang anak tetangga.

Kalau sore saat pulang kerja saya masih bisa mengajaknya main keluar, salah satu tempat favoritnya selain lapangan sepak bola adalah Fitri Mart, sebuah mini market dekat Masjid yang menyediakan mainan Donald Bebek dan Mobil-mobilan.

Pola Pikir Anak Kecil dan Kekhawatiran Orang Tua

Zeze Vavai1Ternyata pelajaran tentang manajemen pribadi bukan hanya bisa datang dari orang yang lebih tua dan sudah banyak makan rujak (asam garam-Vai :-P ) tentang kehidupan, melainkan juga dari anak sebesar Zeze Vavai.

Di usia menjelang 2 tahun (26 Maret adalah ultah kedua), Zeze Vavai sudah semakin cerdas dan semakin kukuh jika menginginkan sesuatu.

Saat mandi misalnya. Kesenangan Zeze Vavai adalah membuka kran air sebesar-besarnya lantas menutup kran dengan tangannya. Otomatis air bercipratan kemana-mana dan membuat saya yang sedang memandikan ikut basah.

Awalnya saya bertindak sebagai diktator. Saya larang Zeze Vavai berbuat begitu karena air yang bercipratan kadang memancar kemana-mana dan bisa membahayakan jika masuk ke hidung atau telinganya, tapi namanya anak-anak, dia akan menjerit-jerit jika saya paksa berhenti.

Zeze Vavai2Lama-lama saya berpikir, mungkin ada yang salah dari mekanisme saya melarang anak. Saya melarang sesuatu yang mereka gemari tanpa memberikan pemahaman dan alternatif.

Saya masih ingat. Dulu, waktu baru bisa jalan, saya selalu khawatir kalau Zeze Vavai jatuh dari tempat tidur karena selalu turun sendiri dari tempat tidur. Yang saya khawatirkan, kadang Zeze Vavai turun dalam posisi duduk, padahal kakinya belum sampai ke lantai. Ternyata kekhawatiran saya tidak beralasan. Saya hanya perlu mengatakan, “Zeze Vavai, turunnya yang benar. Kalau nggak benar nanti jatuh”, dan tiap saya mengatakan demikian, Zeze Vavai akan dengan segera mengubah posisi duduknya menjadi posisi tengkurap dan kemudian turun sambil mundur :-)

Kali lain, saya selalu khawatir kalau terantuk saat menaiki lantai dirumah yang memiliki sedikit undak-undakan (antara lantai ruang tamu dengan lantai ruang keluarga memiliki selisih tinggi sekitar 30 cm). Ternyata dia dengan mudah membedakan “jebakan” ini. Awal-awal, Zeze Vavai akan merangkak setiap melewati undakan tersebut, memastikan bahwa dirinya tidak akan jatuh. Lama-lama, karena sudah terbiasa, Zeze Vavai hanya perlu berpegang ke tembok untuk menyeimbangkan dirinya.

Sekarang, saya tidak khawatir jika Zeze Vavai senang bermain air. Tak masalah buat saya jika saya berbasah-basah ria meski itu sewaktu saya hendak berangkat kerja. Saya tidak mau menukar kebahagiaan Zeze Vavai hanya dengan sekedar keengganan saya untuk menukar baju jikalau basah. Nilai kebahagiaan yang saya dapatkan jika Zeze Vavai tertawa bahkan jauh lebih berharga dibandingkan kerja lembur semalam suntuk :-D

Salah seorang yang saya kagumi, pak Hadi Kuntoro yang juga member TDA dan tinggal di Bekasi menuliskan pengalaman yang menarik soal kedekatannya dengan anak-anak, “Maunya mandi sama ayah…”. Terima kasih untuk share pengalamannya pak Hadi.

Jadi orang tua tidak perlu selalu khawatir kan…